19 Mei 2021

Dua Arca Tokoh Terakota Dari Kabupaten Tegal

 

Temuan arca tokoh dari Tegal tergolong langka dan unik karena arca ini terbuat dari terakota penuh, (tidak ada rongga pada bagian dalam arca terakota).  Arca ditemukan sebanyak 2 buah hanya saja kondisinya sudah hancur sebagian, pada arca pertama yang tersisa hanya bagian atas sampai pinggang sedangkan arca tokoh kedua bagian kepala sudah hilang.   Kedua arca ini ditemukan di Situs Candi Batu Gong , Bolak Menjangan, Pager Barang, Tegal.  Di situs ini masih terlihat gundukan tanah dengan sebaran fragmen bata yang lokasinya berada sekitar 100 meter sebelah selatan dari Sungai Pager Wangi.  Di atas gundukan itu berdiri yoni yang disebut dengan “batu gong” berukurannya 64 x 64 x 75 cm.

Arca tokoh pertama digambarkan dalam posisi duduk hanya saja bagian pinggang ke bawah sudah rusak.  Tangan kanan hanya menyisakan bagian lengan sedangkan tangan kiri bagian telapak tangannya sudah  rusak.  Tokoh digambarkan memakai mahkota dan jamang pita lebar.  Memakai anting anting tali yang pada ujungnya dihiasi dua bandul.  Kalung pita lebar tetapi pada bagian depan ada hiasan yang menjuntai ke bawah, upawita ganda berupa pita lebar berakhir di depan ikat perut yang juga berupa pita lebar. Kelat bahu ada dua, satu di bagian paling atas lengan berupa pita lebar dan satu kelat bahu lainnya di lengan dengan hiasan simbar di bagian samping.  Di atas pundak kiri dihiasi oleh teratai kuncup. Sandaran arca persegi empat dengan bagian atas membulat. Tinggi tersisa sekitar 47 cm .

   Arca Tokoh 1 Terakota

 Arca tokoh kedua dalam posisi duduk bersila dengan kaki kanan di bagian depan. Bertangan dua diletakan di atas paha namun kedua telapak tangan sudah rusak.memakai upawita tali polos demikian juga dengan ikat perut berupa tali polos.Memakai kain tebal yang diikat di depan perut dan simbar tebal dibiarkan menutup sampai ke kaki. Kelat bahu berupa tali polos di lengan bagian atas. Tampaknya memakai sandaran arca hanya saja sudah rusak. Tinggi tersisa sekitar 33 cm.

Arca Tokoh 2 Terakota

Secara ikonografi, jelas kedua arca tokoh ini memiliki atribut dari masa Hindu Buddha, namun tidak ada atribut yang dapat menghubungkan dengan dewa tertentu di dalam Hindu-Budda, oleh karenanya lebih cocok jika disebut sebagai arca tokoh saja.  Secara gaya seni, mungkin lebih dekat ke gaya seni Jawa Tengah dibandingkan dengan Majapahit.  Namun tidak benar benar mencerminkan gaya seni Jawa Tengah seperti yang dikenal pada arca-arca seni Jawa Tengah pada umumnya. Seperti cara menggambarkan kain dari pinggang sampai menutup kaki yang terkesan tebal dan berat pada arca tokoh 2, tidak umum pada seni arca Jawa Tengah.

Seni arca terakota mencapai puncaknya pada masa Kerajaan Majapahit, dimana pada periode ini dihasilkan berbagai karya seni terakota yang luar biasa.  Mulai dari peralatan rumah tangga, berbagai bentuk figurin sampai ornament bangunan yang terbuat dari tanah liat ditemukan.  Namun seni arca yang paling dominan pada masa Majapahit berbentuk  figurin berukuran tinggi sekitar 8-12 cm, sejauh ini  arca terakota berukuran tinggi di atas 20 cm tergolong jarang.  Kalaupun ada, cara pembuatannya tidak masif tetapi kosong pada bagian dalamnya. 

Sebagai perbandingan, seni arca terakota yang berukuran besar ditemukan di Situs Bumiayu, Palembang yang dipertanggalkan sekitar abad ke-9-13 M. Di situs ini ditemukan satu makara dengan seorang pertapa di dalam mulut makara yang juga berukuran besar. Selain itu ditemukan juga kala, ornament bangunan yang semuanya terbuat dari terakota berukuran besar.   

Makara Candi Bumiayu yang kondisinya semakin hancur.

Dengan demikian, temuan arca terakota dari Tegal dan arca Terakota dari Situs Bumiayu, Palembang menegaskan kembali bahwa seni arca terakota berukuran besar sudah dapat diproduksi jauh sebelum sebelum masa Majapahit. Hanya saja mulai popular pada masa Majapahit karena penggunaan seni arca sudah tidak diabdikan untuk kepentingan agama saja.

15 Maret 2021

Intaglio : Batu Permata Semi Mulia (Semi precious Gemstone) yang Kecil Nan Eksotis

 

Intaglio bergambar kerbau sebagai mata cincin emas dari Grobogan

Kebutuhan untuk tampil menarik dengan barang-barang berkwalitas ekspor yang tidak semua orang bisa dengan mudah mendapatkannya atau membelinya tampaknya sudah menjadi watak manusia sejak dahulu sampai sekarang.  Kegemaran terhadap barang eksport yang memuaskan hasrat untuk tampil berbeda juga yang mendorong adanya perdagangan barang barang luxury. Hal itu sudah terjadi sejak terbukanya perdagangan melalui jalur laut yang membuat masyarakat di bagian barat Nusantara terlibat di dalam jaringan perdagangan internasional sejak awal sejarah.  Salah satu komoditas yang berharga dan cukup diminati oleh masyarakat Nusantara  kala itu, selain keramik China yang berkualitas dan kain sutra adalah Intaglio.  Intaglio adalah batuan permata semi mulia (semi presciuos stone) yang digores/ dihiasi dengan gambar tertentu dan kemudian digunakan sebagai mata kalung atau mata cincin. 

15 Februari 2021

Sekali Lagi Soal Situs Sumur Pitu, Kendal

 

Situs Sumur Pitu


Pada bagian terdahulu sudah disinggung bahwa Situs Sumur Pitu adalah situs yang bersifat Buddhistik, dan diduga sebagai “asrama” tempat para bhiksu mengasingkan diri masuk dan bersemedi di dalam hutan.  Hal ini didasarkan pada lokasi situs yang terletak di antara dua puncak bukit pada ketinggian 250 meter di atas permukaan laut (mdpl).  Kondisi di sekitar situs ditumbuhi semak belukar dimana areal tersebut merupakan jalur sungai musiman yang hanya berair ketika musim penghujan.  Di areal perbukitan dan ditemukan sumur sumur penampungan air serta votive ,stupika dan materai tablet dari sekitar abad ke—10 M.  Gerakan masuk ke dalam hutan serta bersemedi ini dikenal sebagai sramana pada zaman Gautama.  

Jadi,  sekitar abad ke-6 SM, perkembangan agama Weda  di India menimbulkan kebencian semua golongan terhadap golongan Brahmana karena peraturan kasta dan keistimewaan yang dimiliki oleh kaum Brahmana.  Golongan Ksatria adalah golongan yang paling kuat dalam menentang dominasi kaum Brahmana.  Pada akhirnya menimbulkan gerakan penentangan terhadap ajaran agama Weda yang dipimpin oleh Mahavira dan Siddartha Gautama.  Gerakan penentangan yang dilakukan oleh Mahavira kemudian melahirkan agama Jaina yang membebaskan pengikutnya dari kekuasaan Weda, berzuhud dan melatih diri dengan tidak perduli kepada kenikmatan dan kepedihan (Shalaby, 2001:88-94). Gerakan penentangan yang dikenal sebagai gerakan śramana ini pada intinya  menolak Weda dan dominasi para Brahmana dengan cara meninggalkan kehidupan bermasyarakat dan memilih jalan hidup religius ( Ray, 1994: 65).

     Gerakan penentangan lainnya dilakukan oleh Siddartha Gautama  sehingga dia dikenal sebagai Mahāśramana.  Murid-muridnya dikenal juga sebagai śramana dan banyak ciri dari Buddha awal merefleksikan hal umum yang ditemukan dalam gerakan śramana.  Gerakan śramana di dalam agama Buddha kemudian berkembang menjadi dua aliran yang berbeda.