24 Januari 2021

Tungku Sepatu : Model Kompor Pada Masa Sriwijaya

Tungku Sepatu dari Sungai Musi

Melihat tungku sepatu dalam kondisi sangat bagus, temuan dari Sungai Musi (?) mendorong penulis untuk melihat kembali penelitian kami di Pantai Timur Sumatra. Ketika itu, salah satu temuan menarik di Situs Air Sugihan, sektor Margomulyo-1 adalah temuan tungku sepatu. Penelitian arkeologi Pantai timur Sumatra menunjukkan bahwa sektor Margomulyo1 hanyalah salah satu dari puluhan sector lainnya di Situs Air Sugihan yang telah ditemukan sebagai bagian dari wilayah kerajaan Sriwijaya pada masa itu. Sebagai sebuah situs permukiman kuna masa Sriwijaya, temuan keramik paling tua di situs ini berasal dari periode dinasti Tang (abad ke-7-9 ), Song, Yuan, sampai Ming (abad ke-14-15) selain itu juga ditemukan keramik yang berasal dari Asia Tenggara dan Timur Tengah. 

Tungku Sepatu dari Situs Air Sugihan, Sektor Margomulyo1


Untuk tungku sepatu yang terbuat dari tanah liat, hasil rekonstuksi memperlihatkan bentuk seperti sepatu, panjang keseluruhan dasar tungku sekitar 42 cm, sebagian dasarnya memiliki dinding setinggi 14 cm dengan tiga tonjolan yang merupakan tempat menaruh wadah untuk memasak ketika tungku digunakan. dan sisanya rata dengan tepiannya yang sedikit dibuat agak tinggi. 

 Tungku yang berwarna coklat muda termasuk jenis tembikar yang banyak ditemukan di Situs Air Sugihan. Tungku sepatu biasa digunakan di kapal-kapal yang melakukan perjalanan jarak jauh mengingat di dalam perjalanan yang membutuhkan waktu lama, diperlukan tungku untuk memasak makanan di dalam perjalanan tersebut. 

Tungku sepatu dengan bentuk seperti ini juga dikenal di daratan Asia Tenggara seperti Vietnam dan Thailand. Temuan serupa juga ditemukan pada muatan kapal tenggelam di Pantai Utara, Cirebon yang dipertanggalkan sekitar abad ke-10 Masehi. Kapal cargo yang dibuat dengan teknologi Asia Tenggara merupakan jenis kapal yang biasa dibuat dan digunakan oleh masyarakat di Asia Tenggara termasuk Nusantara (Utomo (ed), 2010: 52). 

Tungku sepatu kadang kala dibawa oleh para penziarah, dalam perjalanan ziarah ke tempat-tempat suci. Di Situs Percandian Muara Jambi, tungku jenis ini ditemukan di luar halaman kompleks percandian. Kemungkinan tungku ini telah digunakan para penziarah yang bermalam untuk memasak perbekalannya.

Temuan tungku sepatu dari Sungai Musi  dan Situs Air Sugihan  dan kapal cargo tenggelam di Cirebon yang secara morfologi memiliki kemiripan baik secara bentuk maupun ukurannya.  Hal ini tentu selain menimbulkan pertanyaan baru juga menyiratkan adanya hubungan perdagangan antara masyarakat di pesisir (pantai timur Sumatra) dan wilayah Palembang sebagai pusat perdagangan pada masa Sriwijaya.  Akan menjadi menarik untuk ditelusuri dimana tungku ini diproduksi dan bagaimana jaringan perdagangan pada masa lalu antara pesisir dan wilayah Palembang, serta Palembang dengan wilayah lain di luar Sumatra.

Tidak ada komentar: