26 Oktober 2015

Ekspedisi Mahakam 13 : TABANG...


Akhirnya...sampai juga kami di TABANG.  Ya,  Kecamatan Tabang merupakan kecamatan paling utara dari Kabupaten Kutai Kartanegara.  Dan kesanalah kami akan menyelesaikan perjalanan ekspedisi Mahakam ini.  Kecamatan Tabang letaknya cukup jauh dari Kembang Janggut.  Dengan Longboat bermuatan 10-12 orang Tabang dapat ditempuh sekitar 6 jam.  Yang harus diwaspadai adalah banyaknya riam-riam di sepanjang sungai Belayan, oleh karena itu dibutuhkan sekali orang yang sudah berpengalaman mengemudi perahu di daerah ini. 

            Sepanjang perjalanan kami disuguhkan oleh pemandangan yang begitu mempesona sambil sekali kali kami berjumpa dengan rumah rumah yang dibangun di tepi sungai Mahakam.  Burung burung elang yang berterbangan sekali-kali kami jumpai dalam perjalanan ini bahkan beberapa kelompok monyet dapat ditemui di tepi sungai ini.    Di tepi sungai Mahakam juga kami kembali melihat tempat tempat pengolahan kayu lapis (Saumil) yang tengah beroperasi membuat kayu-kayu lapis dimana limbahnya menggunung diletakkan di tepi sungai Belayan serta lokasi-lokasi penampungan tambang batu bara yang sibuk memasukan batubara ke dalam kapal kapal kontainer yang bersandar di tepi sungai.  Entah berapa lama sudah kami menyusuri sungai Belayan, akhirnya kami tiba di Desa Tukung Ritan dan Ritan Baru. Sebuah gapura  dengan empat  tiang kayu berwarna merah yang berhias ukir ukiran khas dayak tampak berdiri indah di tepi sungai Belayan seolah mengundang siapa pun yang melewati sungai ini untuk mampir sejenak di sini.  
  Sekitar 100 meter dari gapura tampak papan selamat datang tertempel pada sebuah papan yang digantungkan di pagar.  Pagar ini dibuat mengelilingi tugu peringatan tentang peresmian desa Ritan Baru sekitar tahun 1990-an oleh bupati Kutai Kartanegara di samping tugu peringatan itu ditegakkan sebuah tiang kayu (blontang ) setinggi hampir 10 meter yang dipuncaknya dihiasi oleh patung manusia berpakaian adat dayak yang diatas kepalanya bertengger seekor burung enggang.  

Di Desa Ritan baru inilah pada bulan Mei 2008 lalu, sebuah lamin yang baru saja selesai dibangun dan diresmikan oleh gubernur Kalimantam Timur.  Lamin tersebut diberi nama lamin Amin Bioq.  Lamin adalah rumah adat yang merupakan bangunan khas suku Dayak.  Namun Lamin yang baru diresmikan oleh gubernur lebih menyerupai gedung pertemuan.  Lamin yang berukuran 20 x 20 meter persegi seluruhnya dibangun menggunakan bahan kayu, bahkan tiang tiang bangunannya memakai tiang kayu utuh berdiameter lebih dari 50 cm.  Memiliki empat pintu pada setiap sisinya namun pada pintu utama ditempatkan dua buah patung berhias pakaian prajurit dayak yang tengah memegang senjata mandau dan perisainya.  Di dalamnya terdapat deretan tempat duduk yang juga terbuat dari kayu disusun bertingkat mengelilingi ke empat bagian gedung mengelilingi dua buah lapangan bulutangkis di bagian tengahnya yang juga bisa didesain untuk berbagai keperluan.   Di dalam lamin ini seluruh bagiannya dihiasi oleh berbagai ornamen dayak baik yang dibuat dengan mengukir langsung pada bagian tiang lamin atau menlukis pada bagian lain dari bangunan ini. 

            Masyarakat dayak yang tinggal di desa Ritan baru dan ritan tukung adalah masyarakat dayak kenyah yang telah berpindah dari tempat asalnya di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia sekitar puluhan tahun yang lalu.  Kini mereka hidup dengan bercocok tanam serta mengelola sungai Belayan.   Pada saat kami berkunjung ke sana tampak sedang hari pasar sehingga di sepanjang lorong permukiman mereka banyak pedagang yang menggelar barang dagangannya.  Meskipun sebagian besar para pedagang berasal dari luar kecamatan Tabang tetapi tampak pula beberapa orang mengenakan atriut dayak yang menandakan  bahwa mereka adalah orang asli penduduk di desa Ritan yang juga ikut berdagang.   Puas berramah tamah dengan tokoh adat di sini kamipun pamit dan segera mencari warung terapung yang berada tidak jauh dari perkampungan Ritan Baru.
Tim menyempatkan diri foto bersama di depan dermaga Ritan Baru

            Menjelang pukul 3 sore baru long boat kami merapat ke kecamatan Tabang, sebuah tiang antena pemancar selular, kapal pengangkut BBM terapung dan POM bensin terapung berada di sekitar gerbang menuju Kecamatan Tabang.    Penginapan kami persis berada tidak jauh dari pintu gapura dan berhadap hadapan dengan kantor kecamatan Tabang.  Sebuah jembatan berkonstruksi beton tengah dibangun untuk menghubungkan kecamatan Tabang dengan desa desa yang terletak di seberang sungai Belayan yang telah membagi dua wilayah kecamatan ini.
            Permukiman di kecamatan tabang sudah sangat teratur, rumah rumah dibangun sejajar mengikuti alur sungai Belayan.  Kebanyakan rumah dibangun dengan konstruksi tiang namun tiang rumah dibuat rendah (kurang dari 50 cm).  Sebuah masjid besar yang sangat indah juga ditemukan tidak jauh dari kecamatan ini.
            Kantor kecamatan Tabang merupakan bangunan dari masa kolonial yang sduah mengalami beberapa perubahan pada bagian dalamnya sesuai kebutuhan.  Namun dari luar aspek arsitekturnya menandakan bahwa bangunan ini merupakan bangunan yang cukup tua masih dapat terlihat.

Tidak ada komentar: