12 April 2011

EKSPEDISI MAHAKAM 7 : Kedang Ipil, kampung tua pelestari upacara Belian

Penasaran dengan cerita-cerita tempo dulu tentang adanya kelompok masyarakat yang menolak masuk ke dalam Islam dan memilih untuk menghindar ke daerah pedalaman seperti yang dilakukan oleh leluhur masyarakat Kedang Ipil membuat Tim memutuskan untuk menengok kondisi terkini dari masyarakat Kedang Ipil itu sendiri. Meskipun dahulunya untuk mencapai lokasi ini harus menggunakan dayung kecil menyusuri anak sungai Mahakam, kini sudah ada alternatif lain melalui jalan darat. Kehadiran jalan darat ini sebagai dampak dari banyak usaha pertambangan dan perkebunan membutuhkan akses jalan darat untuk kelancaranan usahanya. Namun dengan satu syarat .....tidak dalam musim hujan. Jika sudah musim hujan dapat ditebak jalan darat yang masih berupa tanah merah ini dalam sekejap bisa menjadi arena balap yang menantang andrenalin he... Dari Kecamatan Kota Bangun dibutuhkan waktu 1,5 jam untuk mencapai perkampungan Kedang Ipil.

Memasuki gerbang kampung memang masih kuat kesan bahwa perkampungan Kedang Ipil ini adalah perkampungan Lama/ Lawas. Di kiri kanan jalan masuk kami melihat tiang tiang kayu dengan sisa sesajen di atasnya. Ketika kami tanyakan hal tersebut beberapa orang yang kami temui menceritakan bahwa sisa kembang itu adalah sisa upacara belian untuk mengobati beberapa warga yang sakit. Tokoh adat setempat yang meyakini bahwa masyarakat Kedang Ipil adalah cikal bakal masyarakat di Kotabangun menceritakan pula bahwa meskipun masyarakat di daerah ini sebagian besar telah memeluk agama Islam tetapi masih ada sebagian lainnya yang masih menganut kepercayaan animisme sehingga masih sering dijumpai upacara adat seperti Belian. Upacara Belian di daerah ini menggunakan sarana berupa sesajen yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan (daun Aren dan Anjuang) dan yang lainnya. Saat ini secara arsitektur, bentuk rumah di perkampungan di Kendang Ipil tidaklah berbeda dengan bentuk rumah kampung lainnya yang umumnya terbuat dari kayu dan memiliki kolong pada bagian bawahnya, disusun berjajar di sepanjang tepian anak sungai Kedang rantau yakni sungai Sedulang. Masyarakatnya hidup dari berladang dan mengumpulkan hasil hutan lainnya.

Tidak ada komentar: