04 Juni 2014

EARLY TRACES HINDU-BUDDHIST INFLUENCE ALONG THE NORTH COAST OF CENTRAL JAVA: ARCHAEOLOGICAL SURVEY OF THE DISTRICT OF BATANG

Agustijanto Indrajaya,
The National Center of Archaeology Condet raya Pejaten No.4 Pasar Minggu, Jakarta Agustijanto2004@yahoo.com
And
Véronique Degroot
École française d’Extreme-Orient Ampera III No.26 Pasar Minggu, Jakarta vmydegroot@gmail.com

ABSTRACT
 In Central Java, archaeological research dealing with the Hindu-Buddhist period is almost always focused on the area between Kedu and Yogyakarta, which was controlled by the Mataram Kingdom around the 8-9th century AD. Research that attempts to investigate and reconstruct the social conditions of coastal communities during the pre-Mataram period has yet to be undertaken. This paper is such an attempt. It explores Hindu-Buddhist remains in the Batang District, a district which, we believe, was an important entry point for Hindu-Buddhist tradions prior to the emergence of the Mataram Kingdom in the hinterland of Central Java. Key words: Archaeological survey, Batang, Hindu-Buddha

ABSTRAK
Penelitian arkeologi di pantai utara Jawa Tengah mengenai kehidupan masa Hindu-Buddha hampir selalu dipusatkan pada wilayah antara Kedu-Yogyakarta, yang dikuasai oleh Kerajaan Mataram pada sekitar abad 8 – 9 Masehi.. Penelitian yang berupaya mempelajari dan merekonstruksi kondisi sosial masyarakat di daerah pesisir masa pra-Mataram selama ini belum pernah dilakukan. Makalah ini berusaha melakukan eksplorasi pada masa pra-Mataram di Jawa Tengah, khususnya di Kabupaten Batang yang diduga sebagai salah satu daerah yang penting pada awal periode sebelum munculnya kerajaan Mataram di pedalaman Jawa Tengah . Kata Kunci : survey arkeologi, Batang, Hindu-Buddha


12 April 2011

EKSPEDISI MAHAKAM 8 : Kesenian Wayang Orang Damarkulan

                    Lepas dari Kota Bangun kapal kami berlayar menuju wilayah Muaramuntai. (ce. ilee berlayar kayak mengarungi lautan aja he he ), Tempat yang kami tuju tepatnya di Desa Sebembam, desa ini merupakan desa terdekat untuk mencapai kantor kecamatan. Setelah beramah tamah sebentar dengan aparat kecamatan kami dihantar ke sebuah sanggar drama yang cukup populer di kecamatan Muara Muntai yakni sanggar seni drama Damarkulan. Memasuki rumah Bapak Armansyah yang sekaligus sebagai tempat latihan sanggar tari ini tampak tidak berbeda dengan rumah lainnya hanya saja di rumah ini juga tersimpan seluruh perlengkapan pentas sanggar mulai dari pakaian sampai ke alat musik yang digunakan. Menurut Bapak Armansyah, sanggar ini didirikan oleh Bapak Hamri tahun 1990 lalu. Tujuan pendirian sanggar seni drama ini adalah untuk melestarikan kebudayaan wayang orang yang sudah merupakan kegiatan turun temurun. O ya di kecamatan ini cukup banyak ditempati oleh orang Jawa dan umumnya mereka sangat menyukai kesenian wayang orang. Sehingga tidak heran seni drama yang dimainkan secara turun temurun, merupakan seni pertunjukkan mendapat pengaruh dari Jawa. Nama kelompok seninya pun yakni Damarrulan mengingatkan kita pada tokoh Damarwulan yang populer dalam cerita perwayangan. Pertunjukkan wayang orang ini biasanya dimainkan oleh 10 sampai 40 orang pemain tergantung kepada jalan cerita yang akan diangkat dalam pentas tersebut. Untuk satu kali pertunjukkan biasanya dimainkan antara 1 sampai 2 jam. Sedangkan lakon cerita yang cukup populer dimainkan antara lain Ramayana, Hanoman Obong, Nenek Raskul, Nenek Delon.
               
       Usaha Pak Armansyah dan rekan-rekannya patut mendapat apresiasi yang tinggi dalam usaha melestarikan kesenian wayang orang yang kini sudah mulai tergeser oleh tontonan-tontonan lainnya di televisi.


EKSPEDISI MAHAKAM 7 : Kedang Ipil, kampung tua pelestari upacara Belian

Penasaran dengan cerita-cerita tempo dulu tentang adanya kelompok masyarakat yang menolak masuk ke dalam Islam dan memilih untuk menghindar ke daerah pedalaman seperti yang dilakukan oleh leluhur masyarakat Kedang Ipil membuat Tim memutuskan untuk menengok kondisi terkini dari masyarakat Kedang Ipil itu sendiri. Meskipun dahulunya untuk mencapai lokasi ini harus menggunakan dayung kecil menyusuri anak sungai Mahakam, kini sudah ada alternatif lain melalui jalan darat. Kehadiran jalan darat ini sebagai dampak dari banyak usaha pertambangan dan perkebunan membutuhkan akses jalan darat untuk kelancaranan usahanya. Namun dengan satu syarat .....tidak dalam musim hujan. Jika sudah musim hujan dapat ditebak jalan darat yang masih berupa tanah merah ini dalam sekejap bisa menjadi arena balap yang menantang andrenalin he... Dari Kecamatan Kota Bangun dibutuhkan waktu 1,5 jam untuk mencapai perkampungan Kedang Ipil.

Memasuki gerbang kampung memang masih kuat kesan bahwa perkampungan Kedang Ipil ini adalah perkampungan Lama/ Lawas. Di kiri kanan jalan masuk kami melihat tiang tiang kayu dengan sisa sesajen di atasnya. Ketika kami tanyakan hal tersebut beberapa orang yang kami temui menceritakan bahwa sisa kembang itu adalah sisa upacara belian untuk mengobati beberapa warga yang sakit. Tokoh adat setempat yang meyakini bahwa masyarakat Kedang Ipil adalah cikal bakal masyarakat di Kotabangun menceritakan pula bahwa meskipun masyarakat di daerah ini sebagian besar telah memeluk agama Islam tetapi masih ada sebagian lainnya yang masih menganut kepercayaan animisme sehingga masih sering dijumpai upacara adat seperti Belian. Upacara Belian di daerah ini menggunakan sarana berupa sesajen yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan (daun Aren dan Anjuang) dan yang lainnya. Saat ini secara arsitektur, bentuk rumah di perkampungan di Kendang Ipil tidaklah berbeda dengan bentuk rumah kampung lainnya yang umumnya terbuat dari kayu dan memiliki kolong pada bagian bawahnya, disusun berjajar di sepanjang tepian anak sungai Kedang rantau yakni sungai Sedulang. Masyarakatnya hidup dari berladang dan mengumpulkan hasil hutan lainnya.