23 April 2009

Mereka para pendukung budaya komplek tembikar Buni

Penelitian arkeologi di situs Batujaya, yakni sebuah komplek percandian yang bersifat Buddhistik di daerah Karawang ternyata mengharuskan kami (arkeolog) melihat kembali penelitian terhadap budaya Komplek tembikar Buni yang pernah populer sekitar tahun 1960-an. Ketika itu para arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang dimotori oleh R.P.Soejono dan Sutayasa harus berlomba dengan para penggali liar yang bertujuan mencari emas dari kubur-kubur prasejarah di wilayah pantai utara Jawa. Pada awalnya temuan kubur-kubur prasejarah ini ditemukan di desa Buni (Bekasi) dan kemudian daerah perkembangannya ditemukan meluas ke arah timur di daerah sungai Citarum dan sungai Bekasi hingga Ciparage di Cilamaya. Istilah komplek tembikar buni ini muncul; ketika adanya persamaan corak hiasan dari fragmen tembikar yang ditemukan di beberapa tempat antara Bekasi dan Cikampek. Beberapa situs Buni yang pernah diteliti antara lain di Buni, Kedungringin, Cabangbungin dan Bulaktemu di Bekasi, Batujaya, Kobak Kendal, Cilebar Babakan Pedes di daerah Rengas Dengklok.

Namun demikian baru pada tahun 2005 sampai sekaranglah manusia pendukung budaya Buni ini berhasil diungkap lebih jauh. Ya sebuah komplek kubur periode prasejarah atau tepatnya periode protosejarah (sekitar abad 1 sm -2 masehi ) berhasil ditemukan di situs Batujaya. Di situs ini tidak kurang 10 individu berhasil ditemukan kembali meskipun beberapa diantaranya ada indikasi pernah digali secara liar (mungkin sisa penggalian tahun 60-an). Berikut beberapa foto yang dapat dilihat betapa mereka sebenarnya merupakan satu masyarakat yang telah memiliki teknologi yang cukup memadai untuk mengelola lingkungannya pada masa itu.

Temuan kerangka manusia Buni yang berdempetan dengan pondasi bangunan di candi batujaya.



Temuan tengkorak manusia di bawah pondasi bangunan candi





Temuan kerangka tanpa kepala dengan bekal kubur diantaranya masih memakai gelang emas dan memegang senjata/ golok









temuan kerangka jejer dua individu dengan bekal kubur berupa wadah wadah tembikar berbagai bentuk.







Lalu siapakah mereka ? menurut Harry Widi, Arkeolog senior di Museum Sangiran menyebutkan bahwa mereka berasal dari jenis ras Mongolid. beberapa dari Mereka menunjukkan struktur tengkorak yang tebal dengan tekstur yang keras. Proses fosilisasi telah bermula dengan masuknya mineral silika pada tekstur tulang, akan tetapi masih dalam tahap awal. Banyaknya mineral silika ini mungkin disebabkan oleh lokasi temuan rangka yang berada dalam lingkungan berpasir.

Lalu seperti apa budaya yang didukung ntar kita bahas kemudian aja ya (to be countinued ah)

Ekspedisi Mahakam (5)

Perjalanan belum selesai, lokasi selanjutnya yang kami tuju adalah Muara Kaman. Wilayah ini termasuk daerah yang sangat populer di kalangan arkeolog. karena disini lah inskripsi tertua yang memuat ttg adanya sebuah kerajaan Hindu-Buddha pernah ditemukan. Ya tujuh prasasti Yupa sudah cukup menjadi bukti adanya awal peradaban Hindu Buddha di Nusantara.

Yupa merupakan sebuah tiang batu seperti tersebut dalam prasasti itu sendiri dan didirikan oleh para Brahmana sebagai tugu peringatan atas kebaikan Raja Mulawarman. Yupa di Muara Kaman diketahui memiliki tujuh buah yupa yang berinskripsi pallava kuna dengan bahasa Sangskerta. Situs yang telah diketahui sejak tahun 1879 Masehi dan pada tahun yang sama ketujuh yupa berinskripsi ini dikirim ke Jakarta untuk diteliti. Menurut Kern, berdasarkan analisis paleografi diketahui bahwa prasasti tersebut berasal dari abad ke -5 masehi yang karenanya sampai saat ini dianggap sebagai bukti tertua adanya kerajaan bersifat Hindu-Budha di Indonesia.

Yupa seperti halnya prasasti yang tertulis di atas batu atau bahan lainnya merupakan bukti yang paling autentik tentang kehidupan sosial, budaya, politik dan ekonomi masyarakat pada masa lalu yang biasanya terkait dengan kekuasaan raja beserta pejabat-pejabat kerajaan. Diluar temuan Yupa dari Muara Kaman, sampai saat ini belum ada temuan sumber tertulis lain yang menyangkut Kerajaan Mulawarman.
Dari huruf dan bahasa yang tertulis tampak bahwa sang penulis prasasti atau citralekha adalah orang yang menguasai huruf Pallawa tua dan bahasa Sangsakerta. Pada masa itu Bahasa Sangsakerta bukanlah bahasa yang dipakai oleh masyarakat umum namun bahasa ini hanya digunakan oleh kaum terpelajar/ pendeta. Dengan demikian sang Citralekha kemungkinan pula seorang terpelajar/ pendeta.

Ada beberapa informasi penting yang dapat diketahui ketujuh Yupa antara lain :
1. Prasasti ini dibuat oleh Mulawarman sebagai sebuah pengumuman bahwa ia telah mengalahkan musuh-musuhnya. Untuk melegitimasi dan memperkokoh kedudukannya dia juga menyebut Kudungga dan Aswawarman sebagai kakek dan ayahnya yang juga merupakan raja-raja sebelum dirinya.
2. Mulawarman mengadakan upacara bersaji di lapangan Waprakeswara dengan memberikan sedekah berupa 20.000 ekor lembu bagi para pendeta yang telah datang dari berbagai tempat. Selain lembu, sedekah yang diberikan adalah emas yang sangat banyak, air, madu, susu lembu, biji-bijian, segunung minyak kental dan lampu.
3. Upacara bersaji tersebut dilakukan di lapangan Waprakeçwara. Menurut Poerbatjaraka, nama Waprakeçwara ini pada masa kemudian di Jawa dikenal sebagai Baprakeçwara yakni sebuah tempat suci yang selalu dihubungkan dengan dewa Brahma, Wisnu dan Çiwa. Dengan kata lain Baprakeswara ini merupakan tempat pemujaan bagi dewa Brahma, Wisnu dan Çiwa (1976:4).
4. Keempat disebutnya emas yang sangat banyak (bahusuwarnakam) sebagai sedekah menunjukkan bahwa pada masa itu kerajaan ini memiliki sumber emas yang sangat banyak dan menjadi salah satu komoditi dalam perdagangan dengan India. Hal ini masih dapat dilihat sampai sekarang adanya penambang emas tradisional di pedalaman Sungai Mahakam. Selain itu hasil penelitian terhadap sumberdaya alam diketahui pula bahwa daerah pedalaman Kalimantan seperti Kecamatan Tabang memiliki potensi bijih emas.

Wah koq jadi rada serius yah. Tapi memang isi prasasti ini perlu disampaikan supaya kita juga sedikit mengerti knapa koq ujug-ujug ada sebuah peradaban Hindu-Buddha di daerah pedalaman Kalimantan, bukan di Sumatra atau Jawa? Kemungkinan memang pada sekitar awa milenium pertama, ada usaha usaha dari India untuk melalukukan eksplorasi sumber-sumber tambang termasik emas ke wilayah Asia tenggara setelah kebutuhan pasokan atas emasnya dari Asia timur terganggu.

Dalam usaha pelestarian terhadap situs Kutai ini , Pemda Kutai Kartanegara patut diacungi jempol karena atas kepeduliaannya, saat ini telah berdiri sebuah site museum yang dimaksudkan untuk menyimpan segala temuan arkeologi yang terkait dengan kerajaan Kutai. satu usaha yang cukup melegakan tentunya.